Cerber “Terima Kasih Jannah”

Cerita Bersambung oleh Hj. Hajeriah

    Pelaku

  1. Anto   : Gagah, Supel, lincah  namun karena ditinggal  istrinya ia berubah menjadi pendiam dan  pemurung.
  • Arsanti =Santi : Manja, lucu
  • Siti (Ibu Anto) : Tegas, sombong
  • Nurjannah = Jannah : Manis, cerdas, rajin, pekerja keras

Matahari senja baru saja bersiap-siap menuju peristerahatannya. Dewi malam akan menggantikan tugasnya. Nurdiantoro yang sering dipanggil  Anto  lagi membersihkan celananya yang terkena tanah saat membantu menimbun kuburan isterinya.

Raut mukanya terpendam kesedihan yang maha berat. Tak pernah dibayangkan sebelumnya kalau Aisya istrinya yang sangat didicintainya meninggal dalam usia muda. Penyakit kanker payudara yang baru dirasanya dua bulan belakangan langsung ganas menyebabkan kematian Aisya.

Lima tahun mereka hidup rukun dan saling mencintai. Tidak berlebihan kalau dikatakan mereka hidup bahagia. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Usianya baru menginjak 3 tahun.  Arsanti namanya.

Putri satu-satunya yang merupakan hasil buah cinta Anto dan Aisya menangis mau ikut ibunya. Tangisannya memecah kesunyian pekuburan Islam Sudiang. Semua pengantar teriris hatinya menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu.

“Sudahlah, Nak, bantu ibu gendong Santi.” Sambil kuserahkan Santi ke Anto.

“Ibu, aku tidak pernah menyangka kalau Aisya akan secepat ini meninggalkan kita semua!” Suara Anto bergetar menahan tangis.

“Ikhlaskan kepergian istrimu, Nak! Allah lebih sayang kepada Aisya.” Kataku menghibur anakku satu-satunya.

“Aisya wanita salehah, ia tidak pernah mengeluh walau penyakit kanker menyerangnya, ia tetap bekerja, ia tetap mengurus kami.” Kata Anto dengan suara yang sayup tak kedengaran.

Dalam perjalanan pulang dari pekuburan tidak ada yang angkat bicara, kecuali Santi yang masih menangis menyebut-nyebut ibunya. Semua larut dalam kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak, orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya.

Beberapa hari setelah Aisya meninggal, Anto  beraktivitas seperti biasa lagi. Pagi-pagi ia menyiapkan pakaiannya sendiri yang akan dipakainya ke kantor. Arsanti untuk sementara aku yang urus. Sejak suamiku meninggal aku tinggal bersama anak semata wayangku,  Anto.

“Nak, taruh saja bajumu di meja sterikaan nanti kalau Santi tidur, Ibu setrika.” kataku memecah kesunyian di rumah sebesar ini.

“Jangan, Bu. Anto waktu kuliah setrika sendiri. Ibu sudah repot memasak dan mengurus Santi.” kata Anto dengan suara datar.

Di kantor Anto menjadi sosok yang pendiam. Begitu pun di rumah, ia jarang bicara. Gairah hidupnya  sirna dibawa mendiang istrinya. Ia merasa di dunia ini dialah yang paling tidak beruntung. Saat bahagia-bahagianya bersama keluarga kecilnya dalam waktu singkat sirna lantaran Aisya meninggal. Sungguh ia kehilangan.

Beberapa bulan kemudian, Anto tetap menutup diri dari pergaulan. Teman-teman kantornya berusaha menghiburnya tetapi tidak mempan. Ia tetap pemurung. Yang berubah sejak Aisya meninggal, ia rajin ke masjid berjamaah, dan sekali-kali mengikuti pengajian.

Hiburannya di rumah adalah Santi. Obat satu-satunya hanya ketika bermain dengan Santi, gadis mungilnya, buah cintanya bersama Aisya.

“Pa, boneka Santi tambah ya?” rengek Santi.

“Iya sayang, sebentar sore kita cari di toko ya?” kata Anto sambil mencium pipi montok anaknya.

Anto baru sadar, mainan anaknya sudah banyak  yang rusak. Termasuk boneka-boneka yang sudah lama tidak diganti bajunya. Diamatinya boneka yang terakhir dibeli Aisya, baju boneka tersebut sudah kusam, pertanda lama tidak diganti. Santi perlu mainan yang dapat menambah kreativitas.

Santi perlu pembimbing. Aku harus bangkit demi anakku. Anakku butuh perhatian dariku. Ia sudah kehilangan sosok ibu. Ia tidak boleh kehilangan sosok bapak pula. Katanya dalam hati meyakinkan diri. Ia ingat kata mutiara yang berbunyi “Ikhlas dan sadar diri itu lebih baik dari pada terus menerus menyesali yang sudah terjadi.”

“Anto, mau ke mana sama Santi?” tanyaku heran melihat Anto menuju mobil.

“Ini, Bu!  Santi mau pergi beli mainan. Ibu mau ikut?” tanya Anto balik.

“Pergilah Nak, hati-hati di jalan. Jangan dilepas Santi jalan sendiri.” Pesanku kepada Anto.

“Kami pamit, Bu! Sambil melambaikan tangan.

Alhamdulillah hari ini Anto mulai mau jalan. Aku menutup pintu pagar, sambil membalas lambaian Santi dari dalam mobil. Semoga kamu selalu bahagia, Nak. Doaku dalam hati.

Sambungan

Bagian Kedua

“Sepertinya Ibu kecapean mengurus kami, bagaimana kalau kita mencari asisten rumah tangga, Bu?” tanya Anto minta pendapat ibunya.

“Kalau mengurus di dapur aku masih bisa Nak, tetapi mencuci, menyapu, mengepel  rumah sebesar ini aku kewalahan. Carilah yang bisa menemani  Santi, sepertinya dia butuh teman juga.”

Beberapa bulan kemudian Anto masih tetap dingin.

“Nak Anto, tadi ada anak yang datang kemari cari pekerjaan. Katanya kerja apa saja yang penting ada gajinya untuk kuliah.”

“Terserah Ibu saja, kalau Ibu setuju aku ikut saja.” kata Anto.

Pagi-pagi aku sudah rapi. Aku menunggu kedatangan Nurjannah. Nurjannah adalah gadis manis yang kurang beruntung. Ia berasal dari keluarga  petani penggarap. Ibunya berjualan sembako untuk membantu suaminya menafkahi anaknya yang berjumlah tiga orang. Nurjannah adalah anak sulung dari tiga bersaudara.

“Assalamu Alaikum, Bu.” terdengar suara Nurjannah memberi salam.

“Waalaikumussalam”

“Mari sini Jannah. Kita duduk di teras saja. Aku mengambil dua kursi untukku dan tamuku.  Kami sudah sepakat menerima kamu bekerja di rumah kami dengan syarat gaji yang sudah disepakati kemarin dan kamu bekerja hanya pada siang hari saja. Kataku langsung ke pokok permasalahan.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak semoga tidak mengecewakan pekerjaanku.” Jawab Jannah. Nurjannah sangat senang diterima meskipun hanya sebagai pramuwisma alias pembantu.

 “Jannah, mulai hari ini kamu bekerja di rumah kami. Tugasmu mencuci, menyetrika, menyapu dan mengepel. Setelah rumah bersih, temani Santi bermain, buatkan susu dan kasi makan, kalau pak Anto sudah pulang dari kantor kamu boleh pulang.” kataku menjelaskan apa pekerjaan Jannah.

“Iya, Bu. Terima kasih telah diberi pekerjaan.” jawab Jannah sambil menganggukkan kepalanya tanda hormat.

“Awas jangan ada barang hilang atau pecah!” kataku mengingatkan.

“Iya, Bu.” Jawab Jannah dengan tetap tunduk hormat.

Setelah beberapa bulan bekerja, Jannah semakin betah. Ia pandai membawa diri, sehingga penghuni rumah itu menerimanya dengan baik. Gajinya sebagai pramuwisma sekaligus pramusiwi ditabungnya. Niatnya untuk kuliah sebentar lagi terwujud.

Jannah tidak malu kepada temannya. Kalau ada temannya yang menyinggungnya ia hanya tersenyum dan menjelaskan kepada temannya bahwa orang yang paling mulya disisi Allah adalah orang yang paling taqwa.

Santi anak majikannya tambah lama tambah akrab. Diam-diam Jannah mengajari Santi mengaji dan salat. Jannah menyayangi Santi, seolah ada ikatan batin kepada anak itu.

Karena seringnya berpapasan dengan Anto ketika hendak pulang, terasa ada yang aneh. Jannah kadang salah tingkah. Cepa-cepat ia pamit pulang.

Suatu hari Anto pulang lebih awal dari biasanya. Habis rapat katanya kepada Ibunya. Ia mengambil gitar lalu memainkannya.

Jannah terpaku menatap Anto yang lagi bermain gitar.  Hatinya berdegup kencang, tangannya berkeringat, bahkan kakinya sampai gemetar tak dapat melangkah untuk berpaling dari Anto. Jannah spontan  menutup mukanya, bukan main malunya. Ia kedapatan oleh Anto memperhatikannya.

“Jannah, tolong buatkan susu untuk Santi.” ujar Anto

“I  … ya,  iya, Pak. jawabnya gugup.

Jannah kesal terhadap dirinya. Mengapa tingkahnya seperti ini. Perasaan apa ini?

Duda beranak satu, tampan, gagah, keren, dan kaya berhasil menggetarkan jiwa dan raganya. Usianya terpaut 10 tahun dari Jannah.

Jannah sadar, ia tidak dapat berhayal lebih dari pembantu. Keberadaannya di rumah itu hanya sebagai pramuwisma dan pengasuh anak. Tidak lebih. Ada jurang pemisah yang teramat besar dan dalam.

Di kamarnya, yang sempit menjelang tidur, Jannah susah tidur. Semakin berusaha ia  melupakan pak Anto, wajah pak Anto semakin sering muncul di ingatannya. Jannah berdoa, Ya Allah hilangkan perasaan yang tidak wajar ini.

Jannah berusaha menjadi wanita yang baik. Ia aktif di remaja masjid. Di sekolah dulu juga ia aktivis remaja masjid. Ia percaya Firman Allah dalam Q.S An-Nur:26 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk  wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik  dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”.

Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, Anto duduk di teras membaca koran.

“Assalamu Alaikum.”

“Waalaikumussalam” Ee, Kamu Jannah, Masuklah!”

Sambil berlalu Jannah menuju kamar Santi. Anto mengikuti dengan ekor matanya. Manis juga ini anak, pikirnya masih tetap memperhatikan Jannah. Dag, dig, dug, perasaan apa ini? Aneh, apa yang terjadi dalam diriku? Perasaan ini pernah kurasakan dulu ketika bersama Aisya. Cinta? Ah perasaan ini tak bisa dibiarkan tumbuh. Katanya dalam hati.

Ketika akan pamit ke kantor, Anto menemui Santi. Dari luar kamar Santi, Ia mendengar Jannah sedang mengajari Santi  mengaji Iqra. Astagfirullah, betapa akrab dan kompak anakku dengan Jannah. Terdengar suara cekikikan mereka berdua apabila Santi salah menyebut huruf hijaiyah. Anto mengurungkan niatnya bertemu Santi, takut mengganggu konsentrasi anaknya yang lagi belajar mengaji.

Di ruang makan, aku diam-diam memperhatikan ulah Anto. Mengapa Anto menguping di balik kamar Santi? Jangan-jangan Anto sudah melupakan Aisya. Jangan-jangan Anto cinta kepada Jannah pembantu kami. Ah! Tidak, hal ini tidak bisa dibiarkan. Gengsi punya mantu anak orang miskin. Petani. Menurunkan derajat keluarga. Apa kata tetangga dan keluarga besar.

“Anto, makanan sudah siap, Nak! Sarapan dulu baru ke kantor.” Kataku mengagetkan Anto.

“I .. ya  Bu!”

 Anto gugup dan malu terlihat olehku menguping di kamar Santi. Buru-buru ia menuju ruang makan.

“Sudah setahun Aisya meninggalkan kita, apa rencanamu ke depan Anto?  Maksudku tentang pengganti Aisya. Menurut pendapat Ibu, Sisca sekretarismu itu, bisa kau dekati. Ia cantik, dari keluarga terhormat, pendidikannya juga sarjana.”

“Maaf  Bu, aku belum berpikir ke arah situ.”  Ucapnya sambil buru-buru menyelesaikan sarapannya lalu pamit ke kantor.

Kejadian pagi tadi di rumah dan obrolan dengan ibunya tergiang kembali tatkala Anto sedang istirahat di kantor. Sisca memang cantik tetapi tidak streg di hati. Tidak ada perasaan kepada dia. Jannah? Wajahnya manis, polos, sopan, dan sudah akrab dengan Santi anakku. Sayang ibu tidak mau menantunya dari keluarga tak mampu dan tidak sarjana seperti Aisya.

Anto heran terhadap dirinya, mengapa di kantor terasa lama sekali baru jam pulang. Padahal biasanya tidak terasa, bahkan betah berlama-lama. Apakah karena di rumah ada Santi anaknya yang lucu? Boleh jadi. Tetapi yang ada dalam pikirannya bukan hanya Santi tetapi juga karena Jannah.

“Pa, berdoa dulu sebelum makan,” kata Santi saat makan malam.

“Iya, sayang hanya dalam hati. Memangnya Santi tau doa sebelum makan? Kan belum sekolah.”

“Tau Pak, kak Jannah yang ajari. Sambil menadahkan kedua tangannya Santi berdoa. Allahumma Baariklanaa Fiimaarazaktanaa wakinaa ‘adsaabannaar,  Aamiin.”

Ada perasaan terharu dalam diri Anto terhadap Santi. Juga kagum terhadap Jannah.  Tanpa diminta Jannah mengajari Santi mengaji, berdoa, bahkan salat yang seharusnya merupakan kewajibannya sebagai orang tua tunggal dari Santi. Rasanya ia berhutang budi kepada Jannah.

“Aku tidak senang kalau Jannah terlalu dekat dengan Santi.” Ia itu dari keluarga miskin, hanya tamatan SMA saja, tidak ada keluarganya yang berpangkat. Jangan sampai kamu suka. Kita harus mencari pembantu lain”

“Mengapa, Bu? Sepertinya anakku Santi banyak kemajuan karena Jannah.”

“Itu masalahnya, aku tidak suka mereka akrab.”

Anto tidak mau memperpanjang masalah. Ia segera  meninggalkanku. Aku tidak mau dan tidak sudih  Jannah dekat dengan cucuku. Terlebih menjadi menantu. Menurunkan derajat keluarga. Aisya tidak layak digantikan dengan pembantu. Aisya dari keluarga kaya raya, dan sarjana pula.

Sambungan

Bagian Ketiga (Terakhir)

Melihat keakraban Santi dan Jannah, aku merasa iri dan takut.  Sebagai nenek, aku tidak mau Santi lebih sayang kepada orang lain dari pada aku. Keakraban mereka tidak boleh berlanjut. Kalau Santi suka Jannah boleh jadi juga Anto menyukai Jannah.

          Membayangkan hal itu, aku gelisah. Tiba-tiba muncul gejolak emosiku. Dadaku sesak, seakan mau meledak. Aku benci  kamu Jannah. Aku tidak mau keluargaku kamu rebut. Tanganku kukepal seolah mau meninju Jannah andai saja dia ada didekatku.

          Perasaan benciku kepada Jannah tentu saja kusembunyikan kepada Santi dan Anto. Aku tidak mau mereka membenciku karena memusuhi Jannah. Aku berusaha mencari cacat Jannah agar dia dibenci oleh Santi juga Anto.

Dari jauh aku mengamati apa yang dilakukan Jannah. Jannah mengajak Santi bermain di taman. Rupanya Santi belajar naik sepeda. Jannah menuntunnya dengan telaten.

“Jannah, apa kau mau kasih cacat cucuku?”

“Masih kecil disuruh naik sepeda, bagaimana kalau jatuh?” kataku membentak Jannah.

“Nek, kak  Jannah memegang sepedaku.” bela Santi ketakutan mendengar suara neneknya yang keras.

“Ingat Jannah sekali lagi kau berbuat salah, kamu kupecat!” bentakku dengan suara yang lebih keras sambil menunjuk ke arah hidung Jannah.

“Ma   af,  Bu.” Kata Jannah gemetaran.

Jannah segera menyimpan sepeda di tempatnya. Aku berusaha menahan Santi agar ikut denganku, tetapi malah ia mengejar Jannah. Dari jauh aku mengamati mereka. Jannah mengelus kepala Santi, entah apa yang yang disampaikan sehingga tadinya ia menangis karena takut, kini dia diam. Malah tersenyum.

Hatiku semakin geram. Aku jengkel melihat mereka. Ilmu pelet apa yang dipakai Jannah sehingga cucuku  lengket ke dia.

Jannah sangat hati-hati melakukan aktivitas rutinnya. Ia sangat takut dengan ancaman Bu Siti yang akan memecatnya. Cita-citanya untuk kuliah tidak pernah dilupakan. Tabungannya sudah bisa untuk membayar satu tahun. Tinggal menunggu tahun ajaran baru untuk mendaftar. Perasaannya kepada pak Anto berusaha dikuburnya dalam-dalam.

 “Jannah, pel  lantai teras ya?” perintahku kepada Jannah ketika baru datang.

“Baik, Bu.”

“Pakai pengharum agar kuman mati,”

“Iya, Bu.”

Baru beberapa meter dipel, Santi muncul hendak memperlihatkan mainan barunya ke Jannah. Kak ini mainan  …   tiba-tiba Santi jatuh. Jannah tidak dapat meraih tubuh Santi. Jidat Santi terbentur kerikil tajam. Jidat Santi berdarah. Jannah kelabakan melihat darah. Santi menangis menahan sakit.

Mengapa Santi menangis? Pikirku. Aku segera ke teras. Kulihat Santi berlumuran darah, aku panik.

“Cepat ambilkan kotak P3K.” Dengan tergesa-gesa Jannah lari mengambil kotak P3K, langsung mengambil obat merah dan mengoleskan pada luka Santi. Santi mengerang kesakitan.

“Sakit  U …u…u …!

“Tahan ya, sayang!” bisiknya kepada Santi.   

“Habis riwayatmu Jannah, Kau telah melakukan kesalahan lagi. Ini tak bisa kumaafkan. Kesabaranku telah habis. Cucuku  terluka karena keteledoranmu.”

“Maaf,  Bu … saya tidak tau kalau Santi sudah bangun, tadi tiba-tiba muncul dan berlari, padahal baru saya pel lantainya.” bela Jannah memberi alasan dengan jujurnya.

“Tidak ada alasan!”

  “Sekarang pulanglah, sebelum Anto pulang dari kantor!”

  “Jangan lagi pernah ke rumah ini, Sekarang juga kau kupecat!” hardikku kepada Jannah dengan suara yang keras dan bergetar menahan emosi.

Kulihat Jannah menunduk ketakutan. Ada secuil rasa kasian melihatnya. Tetapi apa boleh buat, ini momen yang paling tepat yang telah lama kutunggu. Sebelum pintu pagar ditutup kembali tiba-tiba Santi berlari menyusul Jannah.

“Kak Jannah, Santi ikut.”

“Tidak sayang, Santi sama nenek ya?” bujuk Jannah. Dari matanya keluar butiran-butiran air membasahi pipinya. Jannah menangis. Jannah menutup rapat pagar kemudian berlalu pergi membawa kepedihan hatinya.

U.. u … u … suara tangis Santi semakin menjadi.

Aku berusaha membujuk Santi. Santi malah melototkan matanya kepadaku.

“Nenek jahat!”

Aku tidak perduli. Aku sudah berhasil memisahkan cucuku dengan pembantu. Semoga Anto mau percaya kepadaku. Buktinya ada, jidat Santi terluka  akibat kecerobohan Jannah.

Setelah beberapa hari Jannah tidak bekerja di rumah Anto,  rumah itu seolah tak berpenghuni. Santi hanya diam di kamarnya. Ia menjadi pemurung. Wajah kebencian kepada neneknya tetap ada.

Bagaimana dengan Anto? Melihat jidat anaknya yang tak seberapa parah lukanya ia tahu bahwa itu alasan saja. Ibunya sudah lama membenci Jannah. Tetapi, ia takut melawan ibunya yang sangat disayanginya itu. Santi juga telah bicara hal yang sejujurnya, bahwa ia yang lari hingga terjatuh.

Perasaan Anto kembali  hampa.  Biasanya kalau pulang dari kantor ia ceriah.  Sejak Jannah tidak bekerja di rumahnya, ia merasa kehilangan. Wajah Jannah selalu muncul di benaknya. Wajah yang polos tanpa mike up, manis tanpa ke salon, selalu terbayang. Pokoknya siang jadi kenangan malam jadi impian.

“Pa, ajak kak Jannah lagi ke rumah, ya?” pinta Santi.

“Tidak boleh, Nak nenek tidak suka.”

“Ke rumah kak Jannah, aja ya Pa?”

“ng. Mengapa tidak kepikiran Ya?

Ketika ditanya mau ke mana oleh ibunya, Anto hanya berkata mau ke Grand Mall membeli kebutuhan rumah tangga. Santi sangat senang diajak ke rumah Jannah.

Di rumah Jannah hanya sebentar, Jannah diajak menemani mereka berbelanja di Grand Mall. Jannah tidak menolak ketika diajak karena memang ia juga rindu kepada Santi  dan juga  rindu kepada  … Anto.

Di Grand Mall itu Santi diajak ke kolam renang anak. Anto dan Jannah mengawasinya di gasebo. Anto memesan beberapa cemilan. Mereka layaknya sepasang suami istri yang menunggui anaknya berenang.

“Jannah, ada yang mau saya sampaikan.”

“Ya, Pak?”

“Bisa ndak kamu panggil saya, Kak atau Mas?”

“Ya, Mas  apa boleh?”

“Iya Jannah, malah sangat boleh.”

“Jannah, maafkan Ibu ya? Saya sangat menghormatinya.”

“Saya dari dulu mencintaimu,”

“Tapi, Mas aku orang miskin.  Aku baru tamat SMA. Aku tidak pantas buat Mas. Ibu Mas sangat membenciku”

 “Saya sudah mendaftarkan kamu di Universitas yang pasti kamu suka, soal biaya tak perlu kau pikirkan.”

“Benarkah Mas? Alhamdulillah!” Doaku telah terkabul.

“Soal ibu, biarkan waktu yang menjawab, saya yakin suatu hari beliau akan berubah, ibu orang baik.”

“Tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa kau terima?” Desak Anto.

“Terima,  tolak,  Mas orang buta yang menolak kamu.”

“Alhamdulillah.”

Tiba-tiba Santi muncul habis bermain naik mobil-mobilan. Ia menarik tangan Anto dengan tangan kanannya dan menarik tangan Jannah dengan tangan kirinya. Ia menuju ke sebuah kereta mainan. Mereka bertiga segera naik di kereta tersebut. Mereka tampak bahagia terlebih kedua insan yang lagi dimabuk asmara.

Terdenar sayup lagu dangdut kasmaran

Tatapanmu senyumanmu tiada pernah aku lupakan

Bisikanmu suaramu merdu merayu menggoda
         Tiada siang tiada malam raut wajahmu slalu terbayang

Beginilah oh rasanya pabila sedang kasmaran
Jatuh cinta berjuta rasa Ada rindu bila tak jumpa

Jatuh cinta berjuta rasa Ingin slalu mesra berdua

Bersamamu aku bahagia

Anto dan Jannah saling tatap sambil tesenyum bahagia.

*Suatu hari Anto berkesempatan berbincang-bincang dengan ibunya.

“Anto, bagaimana dengan Sisca teman kantormu? Kudengar dia belum punya pasangan.

 “Sisca, baik-baik saja, Bu! Memangnya kenapa ibu mempertanyakan Sisca.”

“Dekati dia, lamar dia sebagai istrimu.”

“Tapi Anto tidak mencintainya, Bu.”

“Anto mau menikah dengan orang yang disukai Santi,”

“Maksudmu, kau mau menikah dengan Jannah, mantan pembantu, orang miskin, tidak berpendidikan, apa kau tidak malu?”

“Mengapa malu, Bu? Bukankah orang itu kedudukannya sama di mata Allah? Bukankah yang membedakan  hanya taqwanya”.

Mendengar Anto yang membela Jannah, bu Santi hanya diam. Diingatnya cucunya yang begitu membencinya ketika dia mengusir Jannah dulu. Tatapan benci dari Santi begitu melukai perasaannya. Ia tidak mau  peristiwa dulu terjadi lagi.

Langsung menerima juga ia tidak bisa. Menantunya dulu dari orang kaya, wanita karir, berpendidikan pula. Sungguh perbedaan yang sangat jauh.

Anto berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia akan bahagia apabila memlih Jannah sebagai istrinya.

“Jannah, Santi menunggumu di rumah.”   ajak Anto saat Jannah pulang dari salon.

“Tapi Mas aku takut ke Ibu, beliau tidak suka kepdaku.”

“Berdoalah Jannah hati manusia itu dibolak-balikkan.”

“Kamu kan bukan lagi pembantu, kamu sudah mahasiswa, cantik pula.” Kata Anto jujur.

“Ayolah, demi Santi.”

Mendengar permintaan yang tidak dibuat-buat itu, luluh juga hati Jannah, ia juga sangat rindu kepada Santi.

‘Baiklah”

“Assalamu Alaikum”

“Waalaikummussalam” jawab Santi dan Bu Siti bareng.

Bu Siti heran atas perubahan Jannah, yang cantik terawat, tidak sama dulu ketika ia masih menjadi pembantu. Santi bagai kejatuhan bulan, ia langsung minta digendong oleh Jannah padahal kakinya sudah panjang sampai ke lantai. Betapa senangnya kedatangan orang yang dirindukannya.

Melihat kejadian di depan matanya, bu Siti, terharu, namun ia tidak mau memperlihatkan ke Jannah bahwa ia sudah suka ke Jannah.

“Bu, Jannah sekarang mahasiswa lho, Bu,”

“Kalau tamat kuliah ia bisa mendaftar sebagai sekretarisku.”

“Mas, bisa saja,”

“Anto mohon restu ya Bu?”

“Anto mencintai Jannah. Santi juga suka ke Jannah.”

Anto menarik tangan Ibunya, kepalanya ditundukkan, diciumnya tangan ibunya,  lama sekali sambil memohon restu  ibunya.

Bu Siti tak dapat mengelak lagi, Ia terharu menyaksikan kesungguhan anak satu-satunya. Diangkatnya kepala anaknya, diusap sambil berbisik, iya Nak,  aku merestuimu.

SELESAI