Artikel Guru

Lomba Senam antar sekolah yang pesertanya dari pendidik dan tenaga kependidikan

Alhamdulillah Guru UPTD SMPN 5 Mandai Berhasil Meraih Juara 2 di Kelas H pada Bimtek Penanaman Nilai-Nilai Pancasila.Penyelenggara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen GTK. Golden Tulip Legacy Surabaya.

WORKSHOP “PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT DAN SOSIALISASI SEKOLAH PENGGERAK” UPTD SMPN 5 MANDAI KAB MAROS (MAROS,22-25 JUNI 2021)

Juara 1 Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Kabupaten Maros Tahun 2021

Pentigraf

Selamat  Hari  Guru

Oleh Hj. Hajeriah, S.Pd.,M.Pd.

UPTD SMPN 5 Mandai

Suatu hari terjadi keributan di kelas 9A.  Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sudah tahun ketiga tahun ini aku sebagai wali kelasnya, tak pernah sekali pun ada kejadian yang berarti.

“Bu, cepat masuk ke kelas, Arfan dan Dimas bergelut tidak bisa kami pisahkan!” Dengan tergesa-gera Ainun memanggilku di ruangan guru.

“Arfan dan Dimas berkelahi?” Aku bertanya balik. Aku tak percaya, laporan Ainun sang ketua kelas 9A, anak waliku selama 3 tahun,  setahuku mereka sahabat dari kelas 7.

“Ainun, apa kau berkata benar?”

“Iya, Bu! Benar, mari cepat, Bu.” Ainun menarik tanganku. Belum sampai di kelas Nurfadillah berteriak, Bu, Arfan berdarah tangannya, Dimas berdarah kepalanya!”

Begitu sampai di depan pintu kelas aku melihat ada siswa yang bergelut.

“He!, apa yang kalian perbuat?” Berhenti, sambil aku melerai Dimas yang badannya agak besar dan jago karate, aku panik melihat cairan merah di kepala Dimas.  Arfan membelakangiku sambil mengelap tangannya yang penuh cairan merah dengan tisu. “Mengapa berkelahi? Kemarin sudah keceramai bahwa kalian itu bersaudara, harus bersatu, terlebih sudah tiga tahun bersama”.

 “Wahid,  panggil Pak Yusuf, minta Beliau  bawa obat merah ke sini. Cepat!” Kulihat Wahid senyum-senyum, tidak begerak, aku semakin panik, seolah disepelekan oleh ulah Wahid. Temannya terluka, sempatnya ia seenaknya senyum-senyum.

Aku bergegas hendak keluar kelas mengambil obat merah di UKS, tiba-tiba Dimas dan Arfan tertawa sambil bungkuk lalu berlutut di depanku minta maaf. “Selamat hari guru Bu.” Satu-persatu mereka menyalamiku dengan tertib, sambil mengatur posisi membuatku berada di tengah-tengah mereka. Mereka dengan hidmadnya menyanyikan lagu terima kasih guruku. Sebuah kado besar  terbungkus rapi mereka berikan kepadaku sambil kompak berkata  “SELAMAT HARI GURU DARI KAMI KELAS 9A.”

Aku  berusaha menahan bulir-bulir air mata yang hampir tumpah di hadapan mereka.

 “Terima kasih, Nak, kalian berhasil ngepranku. Terima kasih juga kadonya ya?” Aku menyalami mereka satu-persatu.

“Bu, kami sayang Ibu.”  Air mataku kini tumpah, tak dapat kubendung lagi.

“Terima kasih, Nak.” ucapku setengah berbisik.

20 Oktober 2021